Memasuki minggu keempat bulan April, gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) secara komunal mengangkat tema Minggu Jubilate dalam ibadah raya. Kata Jubilate sendiri berarti bersorak-sorai dan bergembiralah di dalam Tuhan.
Tema ini diambil dari firman Tuhan
dalam Kisah Para Rasul 2:22–28, yang menegaskan karya keselamatan Allah melalui
Yesus Kristus yang telah mati, namun bangkit dan mengalahkan maut. Kebangkitan
itu bukan sekadar peristiwa iman, tetapi menjadi dasar sukacita sejati orang
percaya jaminan hidup kekal.
Menariknya, tema ini selaras
dengan minggu sebelumnya, yaitu Misericordias Domini yang juga mengarah pada
sukacita di dalam Tuhan. Ini bukan kebetulan. Tema-tema ibadah dalam HKBP telah
dirancang secara sistematis sepanjang tahun, melalui perenungan dan doa para
hamba Tuhan, agar jemaat terus diarahkan kepada kebenaran firman dalam setiap
musim kehidupan.
Ketika Realita Tidak Mendukung Sukacita
Pesan ini menjadi sangat relevan
jika kita melihat kondisi saat ini.
Bulan April, bagi banyak orang,
bukanlah masa yang mudah. Secara ekonomi, kita berada dalam fase pasca THR, di
mana sebelumnya terjadi lonjakan pemasukan dan pengeluaran yang tinggi saat perayaan Lebaran.
Kini, banyak keluarga mulai merasakan keterbatasan. Pengeluaran harus
diperketat, kebutuhan tetap berjalan, sementara pemasukan belum tentu
bertambah.
Di sisi lain, keluarga juga
dihadapkan pada kebutuhan pendidikan anak-anak. Masa ujian dan kelulusan bagi
siswa kelas akhir SMP dan SMA membawa konsekuensi finansial baru biaya masuk
sekolah, perguruan tinggi, hingga kebutuhan penunjang lainnya.
Dalam kondisi seperti ini,
sukacita seringkali terasa jauh. Pikiran dipenuhi kekhawatiran. Hati menjadi
berat.
Sukacita yang Tidak Bergantung pada Keadaan
Namun di tengah realitas itu, firman Tuhan berbicara dengan sangat jelas : "Sukacita orang percaya tidak ditentukan oleh keadaan."
Sebab keadaan selalu berubah. Ada masa senang, ada masa susah. Semua datang dan pergi silih berganti dalam kehidupan manusia.
Tetapi ada satu hal yang tidak berubah yakni karya keselamatan Allah di dalam Yesus Kristus.
Kebangkitan Kristus adalah
kemenangan yang final. Kemenangan atas dosa, atas maut, dan atas segala
ketakutan manusia. Dari situlah sumber sukacita sejati mengalir—bukan dari apa
yang kita miliki, tetapi dari siapa yang kita percaya.
Makna Penderitaan dalam Iman
Firman Tuhan juga mengingatkan
melalui Surat Paulus kepada Jemaat di Roma 8:17:
“Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris… yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.”
Ayat ini memberikan perspektif
yang berbeda tentang penderitaan. Bahwa kesulitan yang kita alami bukan tanda
ditinggalkan Tuhan, melainkan bagian dari perjalanan iman bersama Kristus.
Sebagai anak-anak Allah, kita
adalah ahli waris janji-janji-Nya. Dan perjalanan menuju kemuliaan itu
seringkali melewati proses yang tidak selalu mudah.
Namun penderitaan bukan akhir cerita. Kemuliaanlah tujuan akhirnya.
Tetap Bersukacita di Tengah Tekanan
Minggu Jubilate mengajak setiap
orang percaya untuk mengambil sikap iman:
- Tetap bersukacita, walau keadaan belum berubah
- Tetap berharap, walau jalan belum terlihat
- Tetap setia, walau beban terasa berat
Karena sukacita kita bukan berasal
dari dunia ini, melainkan dari kepastian bahwa kita telah ditebus,
diselamatkan, dan dijanjikan hidup kekal.
Jika hari-hari ini terasa berat, ingatlah Tuhan tidak pernah kehilangan kendali.
Jika kondisi ekonomi menekan, ingatlah Tuhan adalah sumber pemeliharaan.
Jika masa depan terasa tidak pasti, ingatlah Tuhan sudah menyediakan akhir yang penuh harapan.
Jubilate bukan sekadar ajakan untuk bersukacita. Ia adalah pernyataan iman.
Bahwa di tengah dunia yang berubah-ubah, kita berdiri di atas dasar yang teguh. Yesus Kristus yang telah bangkit dan menang.
Maka, bersorak-sorailah bukan karena hidup selalu mudah, tetapi karena Tuhan selalu setia. (H.A.S)

0 Komentar