APAKAH DASAR KITA UNTUK MENGASIHI


Yoh 19:9-17

Pada malam sebelum Dia disalibkan, Yesus mempersiapkan murid-murid-Nya untuk kepergian-Nya. Pada awal pasal 15 fungsi para murid dijelaskan, yaitu berbuah. Yesus memakai khiasan yan berasal dari PL tentang umat Allah sebagai pokok anggur (bnd. Israel sebagai kebun anggur dalam Yes. 5:1-7). Yesus sendiri adalah pokoknya, kita adalah rantingnya. Walaupun Dia akan pergi, Firman-Nya akan tinggal didalam kita, sehingga melalui doa, kita dapat berbuah (berbeda dengan Israel) sesuai dengan fungsi kita sebagai murid demi kemuliaan Allah Bapa (ay 7,8).

Perikop kita merupakan penjelasan lebih lanjut dari kiasan itu. Intinya bahwa tinggal didalam Yesus berarti saling mengasihi. Namun, kesimpulan yang sederhana itu diberi landasan yang mendalam, dan Yesus mau kita sadar atas landasan itu. Ayat 9 dan 10 menempatkan kasih didalam Allah sendiri. Dalam ayat 9 kita mengenal apa itu kasih melalui Yesus, sehingga kita disuruh untuk tinggal didalam kasih Yesus itu. Maksudnya bahwa kita menjadi penerima kasih Yesus sebelum kita menjadi pelakunya. Namun, kasih yang kita terima dari Yesus adalah sama dengan kasih Bapa kepada Yesus. Seperti biasa dalam injil Yohanes, Kristus mencerminkan (membawa, meneruskan) sifat Allah Bapa, dalam hal ini sifat kasih. Dalam ayat 9 dan 10 Yesus adalah anak Allah yang telah menjadi manusia, yang menjadi teladan kita dalam hal ketaatan. Cara untuk tinggal dalam kasih Yesus atau Bapa adalah menuruti perintah-perintah-Nya. Yesus menjadi teladan menaati Bapa, yang kita ikuti dengan menaati Yesus. Ketaatan itu menggenapi aliran kasih. Kasih mengalir dari Bapa kepada Yesus dan akan mengalir terus dengan kita menuruti perintah-perintah Yesus yang telah menaati perintah Bapa-Nya.
Menurut ayat 11, lingkaran kasih dan ketaatan itu membawa sukacita untuk Yesus dan tujuan dari ajaran ini ialah supaya kita juga menjadi bahagian daripada sukacita itu. Jika kita tidak menerima kasih Yesus, dan atau tidak menuruti perintah-perintah-Nya, kita memutuskan lingkaran itu dan kehilangan sukacita.

Jika dalam ayat 9 kita tinggal didalam kasih Yesus, dalam ayat 12 kita menjadi pelaku kasih Yesus. Ketaatan supaya tinggal didalam kasih Kristus ternyata berbentuk kasih. Aliran kasih (Bapa kepada Yesus kepada kita) diteruskan kepada sesama, dan penerusan itu sekaligus merupakan ketaatan yang menggenapkan lingkaran kasih/ketaatan tadi. Yesus akan memberikan nyawa-Nya kepada murid-murid-Nya. Hal itu memberikan gambaran yang sangat jelas tentang kasih, baik kasih Allah kepada kita maupun kasih kita kepada sesama.Kasih itu bukan basa-basi saja.

Dengan menggunakan kata sahabat pada akhir ayat 13, Yesus masuk kedalam penjelasan tentang sifat relasi-Nya dengan murid-murid-Nya. Yang sudah disampaikan luar biasa implikasinya, bahwa murid-murid Yesus akan berbuah demi kemuliaan Allah, bahwa tujuan itu akan tercapai dengan lingkaran kasih Ilahi antara Allah Bapa dan Anak diperbesar untuk mencakup manusia. Mengapa kita diberitahu semuanya itu? Yesus menjawab dengan istilah sahabat itu. Ayat 14 menegaskan bahwa istilah ini tidak membuat kita setara dengan Dia. Kaum sahabat Yesus adalah sama dengan kaum penerima kasih-Nya, yaitu yang menuruti perintah-Nya. Tetapi penyampaian Yesus membuktikan bahwa kita bukan sekadar pesuruh, melainkan mitra dalam rencana Bapa (ayat 15).

Pertanyaan pribadi.
(1). Sobat SucTion, coba renungkan dan tulislah contoh tindakan-tindakan mengasihi ( kepada orangtua, saudara, sahabat,dst).

Voc by Citra Scholastika