2 Timotius 2:14-16
![]() |
| Sumber:pixabay |
“Ingatkanlah dan pesankanlah semuanya itu dengan sungguh-sungguh kepada mereka di hadapan Allah, agar jangan mereka bersilat kata, karena hal itu sama sekali tidak berguna, malah mengacaukan orang yang mendengarnya. Usahakanlah supaya engkau layak di hadapam Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu, tetapi hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan”.
Untuk mengantarkan kita dalam kesetiaan dan kesungguhan kepada Tuhan, berikut ada seorang tokoh yang berasal dari jepang bernama Paulo uchibori.
Gelombang penganiayaan yang keras terjadi di Jepang pada awal tahun 1600, dimana selama waktu tersebut banyak umat Kristen menjadi martir. Pada tanggal 20 februari 1627, pemimpin gereja bernama Paulo Uchibori, isterinya dan ketiga anaknya ditahan karena menampung para misionaris.
Pada hari itu, Paulo dan 37 orang Kristen lainnya dipukuli, diarak telanjang melalui pusat kota dan dipenjarakan di istana Shimabara, pada keesokan harinya, orang-orang Kristen tersebut dianiaya. Pemerintah tidak berkeinginan menjadikan mereka martir, tetapi mereka menggunakan cara-cara terkeji untuk memaksa orang-orang Kristen menyangkal iman mereka.
Salah satu prajurit mengusik Paulo ketika ia memegang sebuah pisau, dengan berkata,”Berapa banyak jari anak-anakmu yang harus kami ambil?” Paulo menjawab,”Semua terserah padamu.” Para prajurit memotong semua jari anak-anak Paulo kecuali jempol dan kelingking mereka, dengan berkata orang-orang Kristen seharusnya mempunyai jari lebih sedikit dari binatang. Dua anak tertua Paulo , Antonio dan Barutabazaru merelakan jari-jari mereka kepada prajurit tersebut, tanpa menangis atau menunjukkan kesakitan.
Anak Paulo yang bungsu, Ignatius, berumur lima tahun juga tidak menunjukkan rasa sakit saat jari-jari tangannya dipotong. Ia mengangkat tangannya yang berlumuran darah ke langit, mempersembahkannya kepada Allah.
Mereka yang melihat hal ini menjadi terkejut dan tersentuh hatinya menyaksikan keberanian anak-anak itu. Lalu para prajurit mengikat dari ke-16 tahanan tersebut termasuk anak-anak Paulo dan melemparkannya berkali-kali ke dalam air es yang sangat dingin di Teluk Shimabara.
Walaupun demikian, orang-orang Kristen tersebut tidak mau menyangkal iman mereka. Kata-kata terakhir Antonio sebelum ia hilang ditelan laut adalah, “Ayah, kita harus bersyukur ditenggelamkan, wajah Paulo dicap dengan tiga huruf jepang dari kata ‘kristen’. Ia dilemparkan ke jalan-jalan dengan tulisan di baju kimononya yang terbaca, “Dihukum karena menjadi Kristen. Dilarang menolong orang ini atau memberinya perlindungan.”
Seminggu setelah kematian martir anak-anaknya, Paulo dibawa ke atas gunung Unzen dengan ke 15 orang Kristen lainnya untuk merasakan “siksaan di dalam neraka kawah Unzen.” Paulo digantung terbalik dan diturunkan keatas permukaan air sulfur yang mendidih berkali-kali. Ia berdoa dengan suara keras setiap kali, menyadari ia adalah bagian dari Tubuh Kristus, “Perjamuan Suci harus disucikan.”
Akhirnya, tubuhnya dilemparkan ke dalam kawah mendidih yang menguap. Kesaksian iman Paulo dan anak-anaknya menguatkan kita. Kita tahu bahwa mereka dan orang-orang Kristen lainnya yang menjadi martir telah diterima dalam Hadirat Tuhan Yesus dan sekarang mengenakan jubah putih.
Saudaraku, mari kita belajar dari martir iman PAULO UCHIBORI, bahwa apapun yang terjadi tidak akan sanggup memisahkan dia dengan BAPA, sekalipun ia harus kehilangan nyawa dan keluarganya, imanya tetap teguh.
Bila selama ini, kita masih suka berkeluh kesah akan sulitnya keadaan, marilah berkaca kepada pengalaman iman PAULO UCHIBORI. Bahwa kesulitan hidup kita tidak sesulit apa yang mereka alami dan orang-orang Kristen lainnya di muka bumi ini. Mengucap syukurlah senantiasa dalam keadaan apapun juga.
Pertanyaan Pribadi
Sobat SucTion, sudahkah kita mengucap syukur hari ini kepada Tuhan? Sudahkah kita siap untuk menjadi saksi kebenaran dan kasih Nya bagi lingkungan sekitar kita?
