KONSISTENSI IMAN POLYKARPUS

Yesaya 45:5-8 


“Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. Aku telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku, supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa tidak ada yang lain diluar Aku. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini. Hai langit, teteskanlah keadilan dari atas, dan baiklah awan-awan mencurahkannya! Baiklah bumi membukakan diri dan bertunaskan keselamatan, dan baiklah ditumbuhkannya keadilan! Akulah TUHAN yang menciptakan semuanya ini.” 

Polykarpus sedang berdoa di dalam kamarnya di loteng ketika pasukan bersenjata lengkap datang mengepung rumah kecil di perkebunan terpencil itu. Rupa-rupanya salah satu pelayan yang pernah melayaninya telah membocorkan tempat persembunyiannya setelah disiksa dengan kejam oleh tentara Romawi. 

Polykarpus yang berusia 8 tahun pada waktu itu dengan tenang turun ke ruang bawah dan para prajurit yang ditugaskan untuk menangkapnya langsung kaget karena mereka tidak tahu bahwa Polykarpus yang sedang diburu dengan gencar oleh pihak Romawi itu adalah seorang yang begitu lanjut usianya. Dalam hati mereka bertanya-tanya ada apa dengan orangtua ini yang membuatnya begitu dibenci oleh pemerintah Romawi. 

Polykarpus lalu meminta pelayan-pelayannya untuk menyiapkan makanan dan minuman untuk menjamu tamu yang tidak diundangnya itu. Ia juga meminta diberikan waktu 1 Jam berdoa tanpa diganggu. 

Polykarpus tidak mendoakan dirinya tetapi menaikkan doa syafaat bagi orang lain. Namun karena terlalu banyak orang yang didoakan oleh Polykarpus, ia baru menyelesaikan doanya setelah dua jam. Akhirnya ia dibawa ke kota dan disambut oleh kepala keamanan kota yang bernama Herod dan ayahnya, Nicetes. 

Herod dan Nicetes membawa Polykarpus ke dalam kereta kuda mereka dan dengan lembut coba membujuk Polykarpus. “Apa salahnya untuk mengatakan bahwa Kaisar adalah penguasamu, dan menyembahnya?” segala macam cara mereka pakai untuk membujuknya, tetapi Polykarpus berkata. “Aku tidak akan melakukan apa yang engkau minta.” 

Karena tidak berhasil, Polykarpus akhirnya didorong dengan kasar dari kereta kuda dan diseret ke stadion tempat para pemimpin Romawi sedang menantinya. Setelah memastikan identitas Polykarpus, pemimpin Romawi itu dengan lembut coba membujuknya untuk menyangkal Kristus, “Pikirkanlah tentang usia engkau, akuilah kebenaran Kaisar dan bertobatlah. Kutuklah Kristus, dan kami akan membebaskan engkau; katakanlah engkau tidak ada hubungan apa-apa dengan Dia.” 

Polykarpus lalu menjawab., “Aku telah mengikut Dia selama 86 tahun, dan Dia tidak pernah berbuat salah terhadap aku. Bagaimana mungkin aku menista Raja yang telah menyelamatkan aku?” 

Walaupun jengkel dan marah tetapi mungkin karena usia tuanya, mereka terus membujuknya, “Bersumpahlah oleh kebesaran Kaisar.” Polykarpus hanya berkata, “Tidakkah engkau tahu bahwa aku adalah seorang Kristen, jika engkau mau mendengarkan kebenaran Kekristenan, berilah aku waktu dan tempat untuk menjelaskan.” 

Jawaban Polykarpus semakin membuat semua yang mendengarkan menjadi berang. “Hewan-hewan buas yang kelaparan sudah disiapkan, jika engkau tidak mau ‘bertobat’ dari ketidakpercayaan engkau kepada Kaisar engkau akan dilemparkan untuk dimakan hewan-hewan buas itu! 

Polykarpus menjawab, “Silahkan, karena kami tidak terbiasa bertobat dari apa yang baik demi sesuatu yang jahat.” 

Lalu diumumkan sebanyak tiga kali kepada orang banyak yang sudah berkumpul di stadion, “Polykarpus telah mengaku bahwa ia adalah orang Kristen.” Seluruh stadion mulai berteriak-teriak meminta pemimpin Romawi melepaskan singa lapar ke tengah stadion untuk memangsa Polykarpus. Tetapi karena pada waktu itu tidak memungkinkan untuk acara gladiator dan singa, diputuskan bahwa Polykarpus akan dibakar. 

“Apakah engkau sungguh tidak mau bertobat? Engkau akan kami jatuhkan hukuman mati dengan dibakar sampai hangus.” 

Kata Polykarpus, “Engkau mengancam aku dengan api hanya akan membakar paling lama satu jam, setelah itu apinya padam. Tapi engkau sendiri bodoh dengan tidak menyadari tentang api penghakiman yang kekal, yang telah dipersiapkan untuk orang-orang yang tidak percaya. Apa lagi yang engkau tunggu? Lakukanlah apa yang engkau mau lakukan!” 

Mendengarkan itu, orang banyak yang bagaikan dirasuk setan mulai mengumpulkan kayu dan bahan-bahan kayu dari toko-toko dan tempat permandian umum. Dengan cepat tumpuan kayu sudah terkumpul. Polykarpus lalu menanggalkan jubahnya dan melonggarkan pakaiannya, Dan ia coba juga untuk menanggalkan sepatunya. 

Disaat ada yang mau memakukan kaki dan tanganya ke atas kayu supaya ia tidak akan coba melarikan diri waktu api mulai memanas, Polykarpus bekata, “Biarkan saja; jika Tuhan memberi aku kekuatan untuk dibakar di dalam api ini, Ia akan memampukan aku untuk tetap bertahan diatas gumpalan api ini.” Lalu mereka tidak jadi memakunya tetapi sekedar mengikat tangannya di belakang seperti seekor domba yang akan dibawa ke tempat sembelihan. 

Lalu Polykarpus menaikkan doanya yang terakhir, “Aku bersyukur Engkau telah mengaruniakan kepada aku hari ini dan saat ini, dimana aku dapat mengambil bagian diantara para martir utuk dibangkitkan kepada hidup yang kekal ole Roh Kudus, dalam jiwa dan tubuh yang tidak akan dikorupsi lagi. Semoga aku akan diterima di dalam hadirat Engkau hari ini, sebagai persembahan yang berkenan yang telah Engkau persiapkan. Engkaulah Tuhan yang setia dan benar. 

Demikianlah pada jam 2 siang, tanggal 23 Februari ditahun 155. Polykarpus, yang ditahbis menjadi uskup gereja di Smyrna oleh rasul Yohanes sendiri, mati sebagai martir bagi Kristus. 

Catatan tentang kemartiran Polykarpus, yang merupakan suatu fakta sejarah ditemukan diantara surat-surat Ireneus yang merupakan murid Polykarpus. 

Polykarpus seperti juga banyak orang percaya di zaman ini, mampu untuk mati bagi Kristus karena ia hidup untuk Kristus. Hidupnya secara radikal ditransformasi oleh pekerjaan Roh Kudus-keinginan, kekhawatiran, rasa sakit dan rasa takut tidak lagi mengikatnya. Kehidupan dan kematian Polykarpus merupakan inspirasi bagi semua orang percaya. Ia menyerahkan hidup duniawinya bagi Kristus dan di dalam pengorbanannya, ia memperoleh hidup yang kekal.

Pertanyaan Pribadi

Sobat SucTion, apakah yang sudah kita korbankan untuk membuktikan iman kepada Kristus?