KELOMPOK YANG MEMBANGUN

Kisah Para Rasul 2:44-47 



“Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing . 

Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan”. 

Sebelum Yesus terangkat ke sorga, Yesus telah menjanjikan bahwa bila Ia naik ke sorga maka para murid-muridNya akan menerima kuasa Allah (1:8). Mereka akan menerima kuasa Allah bila Roh Kudus turun atas mereka. 

Tepatlah seperti apa yang dikatakan Yesus pada hari Pentakosta (Turunnya Roh Kudus) sebagaimana tertulis dalam Kis 2:1-12. “Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, dimana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata–kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. 

Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: “Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Firginia,dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.” Mereka semuanya tercengang-cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain: “Apakah artinya ini?” 

Tuhan telah menunjukkan Kuasa-Nya kepada orang percaya. Tuhan membuat manusia itu di luar orang Israel yang mendengarkan para murid berbicara mengerti akan bahasa para murid. Kuasa Tuhan semakin berpengaruh dalam diri para murid. Sebab tak lama setelah menerima kuasa dari Allah, Petrus berkhotbah dihadapan orang banyak. Mujizat terjadi. Banyak orang yang menerima khotbah Petrus. Disebutkan dalam Ayat 41 bahwa ada sekitar 3.000 jiwa yang menerima perkataanya dan memberi diri dibaptis. 

Sungguh luar biasa kehidupan orang yang percaya itu. Mereka yang dibaptis dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, mereka semua satu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama. Mereka memecahkann roti dan berdoa, dan itu selalu. Jadi, jemaat yang sehat adalah jemaat yang selalu memecahkan roti dan berdoa di rumah masing-masing. Secara bergiliran, itu artinya bahwa tiap keluarga hendaklah memecahkan roti dan berdoa.tidak hanya di gereja, tetapi dirumah masing-masing. Secara bergiliran, berarti mungkin dilakukan dalam beberapa kelompok dalam suatu wilayah kecil. Secara bergiliran, berarti setiap keluarga mendapat jatah untuk menyiapkan roti yang akan dipecahkan. 

Mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Tuhan. Biasanya kita ke gereja hanya tiap hari minggu. Tetapi dalam jemaat pertama, praktek ini dilakukan tiap-tiap hari. Jadi baik unutk pergi ke gereja berdoa bersama setiap hari. Nah, kalau tiap-tiap hari tidak memungkinkan bagi kita untuk ke gereja. Maka salah satu alternatifnya adalah membuat kelompok doa kecil dan berdoa bersama tiap-tiap hari. Mungkin 2 atau 3 keluarga yang berdekatan. 

Yang amat menarik mungkin: makan bersama-sama dengan gembira dan tulus hati. Wah, kalau sekarang, itu artinya bisa berupa saling mentraktir. Satu orang membeli makanan untuk semua, dan itu dilakukan dengan tulus hati. Kemudian mereka makan bersama-sama dengan gembira. Bisa jadi itu juga dilakukan dalam kelompok 2 atau 3 keluarga tadi. Berkumpul bersama setiap hari, makan bersama setiap hari, dan secara bergiliran, menyediakan makanan dengan tulus hati untuk semua. Dan itu semua dilakukan dengan gembira. 

Dan mereka tetap bersatu. Bersatu, artiniya tidak pecah. Tetap sehati sepikir. Dalam doa, dalam memecahkan roti, dalam makan bersama, dalam memuji Tuhan. 

Kita dapat membayangkan betapa indahnya hidup itu bila hal itu dapat dilaksanakan dalam kehidupan sekarang ini. 

Dan sebagai hadiahnya, mereka disukai semua orang dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. 

Pertanyaan Pribadi

Sobat SucTion, sudahkah sobat memiliki kelompok kecil dalam berdoa dan berbagi ? Sudahkah anda melakukanya di rumah, di sekolah, di tempat kerja, di gereja ?