"DURI" KEHIDUPANKULAH YANG MEMPERLIHATKAN KEPADAKU KEINDAHAN DARI ANUGERAH TUHAN

Mazmur 150 

“Haleluya Pujilah Allah dalam tempat kudus-Nya! Pujilah Dia dalam cakrawala-Nya yang kuat! Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi! Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permainan kecapi dan seruling! Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang! Biarlah segala yang bernafas memuji Tuhan! Haleluya!” 

Jika kecelakaan bulan lalu itu tidak pernah terjadi, pada minggu “Thannksgiving” ini, ia mungkin akan melahirkan seorang putra. Ia sangat sedih, benar-benar terpukul atas kejadian itu. Tetapi sepertinya kedukaan yang ia alami itu belumlah cukup. Perusahaan tempat suaminya bekerja, menugaskan suaminya untuk bekerja di bagian cabangnya di luar kota. Kemudian, adik perempuannya yang selalu berkunjung saat masa liburan datang, tiba-tiba menghubunginya karena ia tidak dapat berkunjung pada liburan kali ini. 

Tidak cukup sampai di situ. Teman Sandra menasehatinya dengan mengatakan bahwa segala kedukaan yang ia alami adalah jalan Tuhan untuk mendewasakannya sehingga ia dapat bersikap lebih tenggang rasa terhadap penderritaan orang lain. 

“Ia tidak tahu apa yang aku rasakan,” piker Sandra dengan lirih. 

“Thanksgiving? Berterima kasih untuk apa?” pikirnya. Untuk supir truk yang ceroboh, yang menyerempet mobilnya dengan sangat keras? Untuk kantong udara penyelamat yang menyelamatkan hidupnya, tetapi mengambil hidup bayinya? 

“Selamat siang, saya melakukan sesuatu dengan bijak berdasarkan firman Tuhan adalah orang yang hidup di dalam kasih Tuhan. Ia akan mendapat hadiah terindah menjadi Anak-anak Tuhan yang selalu diberkatiNya?” secara tiba-tiba Sandra berhenti dari lamunannya. 

“Aku..aku membutuhkan persiapan untuk ”Thanksgiving,” Jawab Sandra dengan gagap. 

“Untuk Thanksgiving? Apakah kamu ingin suatu hal yang indah, tetapi sederhana, ataukah kamu ingin menghadirkan situasi yang berbeda seperti pilihan pelanggan disini, yang kusebut sebagai ‘Thanksgiving istimewa’?” Tanya penjaga toko. 

‘Apakah kamu mencari sesuatu yang bisa menyampaikan rasa terimakasihmu pada hari Thanksgiving ini?” 

“Tidak juga!” celetuk Sandra. “Dalam lima bulan terkahir ini, semua yang terjadi benar-benar menjadi sangat buruk.” 

Sandra menyesali ucapannya tadi dan ia sangat terkejut ketika penjaga toko itu berkata, “Aku telah mempersiapkan sesuatu untukmu di hari Thanksgiving ini.” 

Pada saat itu, bel pintu toko berbunyi, dan penjaga toko melayani seorang pelanggan yang baru saja masuk. 

“hai, Barbara ..tunggu sebentar yah, aku ambilkan pesananmu.” 

Penjaga toko itu masuk ke dalam, menuju ruang kerjanya, kemudian muncul kembali sambil membawa berbagai macam persiapan untuk Thanksgiving, seperti tanaman hijau, pita-pita, dan tangkai bunga mawar duri yang panjang. Anehnya , hanya tangkainya saja, tidak ada bunganya. “Mau dimasukkan kedalam kotak?” Tanya penjaga toko. Sandra mengamati reaksi pelanggan itu. Apakah ini hanya lelucon? Siapa yang mau tangkai mawar tanpa bunganya! Ia menunggu seseorang tertawa, tetapi wanita itu tidak tertawa. “iya, tolong yah,” jawab Barbara dengan tersenyum. 

“Aku kira setelah tiga tahun mengalami Thanksgiving yang istimewa, aku tidak akan tersentuh dengan nilai dari Thanksgiving ini, tetapi aku bisa merasakannya disini.” Barbara berkata sambil menyentuh dadanya. Dan ia pergi dengan pesanannya. “uh,” gumam Sandra ,”wanita itu telah pergi dengan..uh, ia telah pergi tanpa bunga!. “Baiklah”, kata penjaga toko, “Aku akan memotong bunga ini dari tangkainya. Itulah Thanksgiving istimewa. Aku menyebutnya sebagai ‘karangan Bunga Berduri Thannksgiving’. 

“Ayoklah, kau tidak bisa menyebutkan siapa yang bersedia membayar untuk tangkai bunga seperti itu! Seru Sandra. “Barbara datang ke toko ini tiga tahun yang lalu dengan perasaan yang sama seperti yang kau alami sekarang ini, “si penjaga toko menjelaskan. 

“Ia berfikir tidak perlu banyak berterimaksaih kepada Tuhan. Ia telah kehilangan Ayahnya karena penyakit kanker, bisnis keluarganya juga sedang buruk, putranya terlibat dalam masalah obat-obatan, dan ia tengah menghadapi operasi pembedahan yang sangat serius.” 

“Pada tahun yang sama. Aku kehilangan suamiku,” lanjut si penjaga toko, “Dan untuk pertama kalinya dalam kehidupanku, aku menghabiskan liburan sendirian. Aku tidak memiliki anak, suami, kerabat dekat, dan memilliki banyak utang.” 

“Jadi apa yang kau lakukan?” Tanya Sandra. 

“Aku belajar untuk berterima kasih atas segala penderitaanku,” jawab penjaga toko itu dengan pelan. 

“Dulu aku selalu bersyukur kepada Tuhan atas segala hal yang baik dalam kehidupanku dan tidak pernah mempertanyakan mengapa hal yang terbaik terjadi kepadaku. Tetapi, ketika hal yang buruk menimpaku, aku mempertanyakan berbagai pertanyaan kepada Tuhan, aku menyalahkan Tuhan, aku marah kepada Tuhan! Aku membutuhkan waktu lama untuk mengerti dan mempelajari bahwa saat-saat sulit dan penuh penderitaan sangatlah penting. Saat kita menderita itulah, kita memperoleh kekuatan. Aku selalu terlena dengan ‘bunga’ kehidupanku, tetapi ternyata ‘duri’ kehidupankulah yang memperlihatkan kepadaku keindahan dari Anugerah Tuhan. Kau tahu, dalam Alkitab tertulis bahwa Tuhan selalu menghibur kita ketika kita menderita. Tuhan memberikan kepada kita kekuatan, dan dari penghiburanNya-lah kita belajar untuk menghibur orang lain. “Karena itu seluruh yang bernafas harus memuji Tuhan entah apapun yang terjadi sebab semuanya itu adalah sepengetahuan Tuhan.

Pertanyaan Pribadi

Sobat SucTion, seberapa seringkah kita mengucap syukur ketika kita merasa sedang dalam persoalan hidup?