Matius 7 : 21 – 23
“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku : Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku : Tuhan,Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi Nama-Mu juga?
Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata : Aku tidak pernah mengenal kamu ! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”
Pada zaman sekarang ini, sudah jarang kita mendengar berita bahwa ada orang yang mampu melakukan mujizat. Berbeda dengan zaman dulu, banyak orang yang mampu melakukan muzizat. Tidak terkecuali dengan yang terjadi dalam diri masyarakat Batak. Dahulu sebelum orang batak menerima kekristenan, sungguh banyak cerita peristiwa ajaib atau aneh tetapi nyata yang dilakukan oleh orang-orang batak. Salah satu diantara peristiwa tersebut adalah adanya orang yang memiliki kemampuan untuk menerbangkan ‘losung’. Losung adalah batu besar yang digunakan untuk menumbuk padi atau ubi kayu. Tentu saja tidak semua orang Batak zaman dahulu dapat menerbangkan losung. Hanya mereka yang memiliki ‘ilmu yang tinggi’ yang dapat melakukannya.
Kita sebutlah bahwa peristiwa ajaib itu dengan muzizat. Bahwa zaman dahulu banyak orang yang mampu melakukan muzizat. Sewaktu kita membaca nas renungan kita saat ini, tentu saja zamannya masih sama dengan zaman nenek moyang orang Batak dahulu, dimana orang pada saat itu banyak yang mampu melakukan muzizat. Karena itu muzizat bukanlah perkara yang sulit sewaktu yesus berbicara mengenai nas ini.
Bila ada orang yang beragama sekarang ini mampu melakukkan mujizat, maka dia akan mampu merubah cara berpikir dari banyak orang. Tentu saja kemampuannya membuat muzizat dapat dipandang oleh orang tertentu sebagai suatu keistimewaan baginya. Bisa saja orang menyebut dia memiliki iman yang teguh. Orang yang memiliki iman yang teguh maka dia otomatis dapat masuk langsung ke sorga. Benarkah demikian?
Nas kita hari ini mengingatkan kita akan pentingnya iman, namun iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati. Orang yang menyatakan diri sebagai orang beriman tidak dengan sendirinya memiliki perbuatan baik. Tidak sedikit orang yang menyatakan diri sebagai orang beriman, tetapi tindakanmya justru tidak seperti yang diharapkan. Ada jurang yang terbuka antara iman dan perbuatan. Perlu ada keinginan dan tindakan untuk menghubungkan kepercayaan dan praktek. Disamping itu, sangat diperlukan anugerah dari Allah. Anugerah Allah yang membuat seorang beriman dapat sungguh-sungguh berkeinginan dan berkemampuan untuk mengintegrasikan iman dan perbuatannya.
Diselamatkan karena Anugerah Allah dan Oleh Iman
Keselamatan tidak dapat diperoleh manusia karena perbuatan atau karya sendiri. Sebab jika kita mau mengandalkan perbuatan dan amal kebaikan sendiri untuk diselamatkan, hanya ada satu cara, yaitu kita harus sempurna. Tetapi adakah manusia yang sempurna? Tidak! Alkitab menyatakan bahwa semua manusia adalah orang berdosa ( rom 3:9-18,23). Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemulian Allah, tetapi oleh kasih karunia Allah telah dibenarkan dengan Cuma-Cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus (Rom 3 :23-24). Alkitab menjelaskan bahwa kita diselamatkan karena kasih karunia Allah yang kita terima dengan iman. Itu bukan hasil usaha kita, tetapi pemberian Allah; itu buksn hasil pekerjaan kita, sehingga tidak ada seorangpun bisa memegahkan diri di hadapan-Nya. (Ef.2:8-9).
Diselamatkan Untuk Melakukan Perbuatan Baik
Kita diselamatkan bukan karena perbuatan baik, tetapi kita diselamatkan untuk melakukan perbuatan baik. Alkitab menyatakan bahwa “kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup didalamnya (Ef 2:10)
Bukan perbuatan baik yang menyelamatkan, tetapi perbuatan baik itu merupakan salah satu ciri atau tanda dari orang yang telah diselamatkan. Sebab barang siapa yang ada dalam Kristus ia adalah ciptaan baru ( 2 Kor 5:17) dan Roh Kudus menolongnya untuk menghasilkan buah Roh ( Gal 5:22-23).
Adanya Usaha Untuk mengintegrasikan Iman Dan Perbuatan.
Iman dan perbuatan harus diintegrasikan. Orang yang berseru kepada Tuhan tetapi tidak melakukan kehendak Allah tidak akan masuk ke dalam Kerajaan-Nya ( Mat 7-21). Tuhan Yesus menghendaki agar orang yang berseru kepada-Nya juga melakukan kehendak Bapa-Nya. Iman itu bukan hanya di bibir saja, tetapi harus tertanam di dalam hati dan terwujud dalam tindakan. Perlu ada keinginan dan tindakan untuk menghubungkan kepercayaan dan praktek. Perlu ada usaha untuk mengintegrasikan iman dan perbuatan.
Bisa saja ada orang-orang, yang menyampaikan pesan Allah serta mengusir roh-roh jahat dan melakukan perbuatan ajaib dalam nama-Nya tetapi hidupnya senantiasa melakukan kejahatan, tidak berkenan dihadapan-Nya (Mat. 7:22-23). Tuhan mengkehendaki agar orang yang melayani-nya berusaha menjauhi kejahatan. Para ‘pelayan’ yang hidup dalam kejahatan tidak sungguh-sungguh mengenal Dia dan hidup di dalam Dia (1 Yoh 1 :6 3:6 ). Para pelayan Tuhan hendaknya mengintegrasikan iman dan panggilannya dengan seluruh hidup dan perbuatannya. Untuk itu diperlukan usaha dari pihak manusia dengan bersandar pada anugerah Allah.
Menjadi Pelaku Firman
Firman Tuhan adalah saran untuk membuat iman dan perbuatan terintegrasi. Firman Tuhan mengajarkan kebenaran untuk meneguhkan iman, dan sekaligus menegur dan membetulkan perbuatan yang salah, dan untuk mengajar manusia supaya hidup menurut kehendak Allah ( 2 Tim 3:16). Agar iman dan perbuatan dapat terintegrasi maka hendaknya kita tidak hanya menjadi pendengar firman yang baik, tetapi juga pelaku firman yang baik.
Firman Tuhan ukan hanya untuk didengar lalu dilupakan, melainkan untuk dihayati dan dilakukan ( Yak 1:21-25 2:17). Orang yang mendengar firman Tuhan dan melakukannya sama seperti orang bijak yang membangun rumahnya diatas batu. Pada waktu hujan turun, dan air banjir dating serta angin kencang memukul rumah itu, rumah itu tidak roboh sebab telah dibangun diatas batu. Orang yang mendengar firman Tuhan tetapi tidak melakukannya sama seperti orang bodoh yang membangun rumahnya di atas pasir. Pada waktu hujan turun, dan air banjir datang serta angin kencang memukul rumah itu, rumah itu roboh dan kerusakannya hebat sekali! (Mat. 7:24-27).
Saudara-saudara yang terkasih, janganlah kita menjadi orang bodoh, tetapi hendaklah kita menjadi orang bijak. Marilah kita rajin mendengar Firman Tuhan dan setia melakukannya. Perlu ada keinginan dan tindakan untuk menghubungkan kepercayaan dan praktek. Bersandar pada Anugerah Allah, marilah kita berusaha mengintrgrasikan iman dalam perbuatan. Dengan demikian apa yang diimani dapat terwujud dalam tindakan, dan perbuatan memperteguh kepercayaan. Amin.
