Ketaatan Sejatinya Harus Merdeka

Salam SucTion..!

Dalam penggunaan bahasa kita mengenal istilah palindrom atau dapat diartikan yaitu sebuah kata, frasa, angka, maupun susunan lainnya yang dapat dibaca dengan sama baik dari depan maupun belakang (bc. Wikipedia ).

Ada beberapa diantaranya yang sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari, baik ketika di rumah, di sekolah, di kantor, di tempat ibadah atau bahkan di saat acara sosial ditengah masyarakat luas. Beberapa diantaranya seperti kata apa, ini, malam, ada, kusuk, merem, macam, kakak, taat dll. Kelompok kata ini apa bila dibalik penulisanya maka tidak akan didapati perbedaan maknanya saat dibaca.

Dari beberapa contoh kata tersebut ada yang mengandung jenis kata sifat sekaligus kata kerja yakni "TAAT".


Dalam KBBI kata "taat" diartikan yaitu senantiasa tunduk; patuh; tidak berlaku curang; setia;dan saleh (kuat dalam beribadah). Kata taat dapat menggambarkan kepribadian, sifat, perilaku seseorang terhadap sesuatu yang diwajibkan bagi dirinya. Di sisi lain kata taat merupakan suatu perintah yang harus dilaksanakan sebagai kata kerja. Ketaatan secara sederhana dapat diartikan sebagai kepatuhan kepada sesuatu yang diwajibkan kepadanya untuk dilaksanakan. Taat memiliki keteguhan makna yang selalu konsisten sebagaimana dikelompokan kepada istilah palindrom, dimana tidak akan memiliki pergeseran makna sedikitpun manakala penulisanya dibalik dari depan atau belakang. Dalam hal ini kata taat bebas dari intervensi pertukaran sudut pandang kita.


Tidak mengherankan ketaatan merupakan hal yang sangat sulit tetanam dalam sifat manusia. Hal ini sangat wajar mengingat sifat manusia yang selalu bertumbuh, berubah, dinamis dan cenderung tidak konsisten dikarenakan kemampuan beradaptasi yang seringkali dipengaruhi situasi di sekitarnya.


Sebagai bagian dari tatanan sosial kehidupan di bumi ini, manusia tidak akan bisa lepas dari ketaatan bila ingin survive dalam mempertahankan keberadaanya. Kita dilahirkan dalam sebuah keluarga yang mengajarkan ketaatan pertama kali, kemudian di masyarakat, bangsa dan negara. Tanpa ketaatan kita akan diperhadapkan dengan berbagai resiko dan hukuman kepada diri sendiri, Sebagai makhluk sosial yang tinggal dibumi kita tidak bisa lari dari kenyataan itu.


Bagaimana dengan ketaatan kepada Bapa di Sorga ???
Bapa yang telah menebus, menyelamatkan, dan terlebih dahulu mengasihi kita dengan pengorbanan- Nya??
Bersambung----