Kerajaan Fiksi Pelayanan Fiktif

Tokoh Fiktif dalam Kerajaan Fiksi

Beberapa waktu belakangan ini, media sibuk dan tertarik dengan peristiwa munculnya berbagai kerajaan palsu di Indonesia. Diketahui, ada sejumlah  kerajaan fiktif yang belakangan terungkap. Di antaranya, Kerajaan Agung Sejagat di Purworejo, Jawa Tengah (Jateng), Kerajaan Jipang di Blora, Jateng, dan Kerajaan Sunda Empire di Bandung, Jawa Barat (Jabar) dan mungkin masih ada beberapa kerajaan lain yang belum terdeteksi dan patut dipertanyakan legalitas sejarahnya.

Secara kasat mata ada beberapa hal pokok yang sangat mendasar sebagai persamaan motif didirikanya kerajaan tersebut yakni pencetus kerajaan-kerajaan itu menyasar masyarakat kalangan ekonomi menengah ke bawah sebagai "rakyatnya" atau lebih tepat pengikut yang dijadikan sebagai warga kerajaan tersebut. Para pendiri kerajaan tersebut tentu telah memiliki konsep yang matang dalam menjalankan rencana pemerintahanya dan memetakan kekuatan rakyat yang dapat dikelola dengan baik. 


Mungkin bila didudukan secara berdampingan dengan peristiwa fenomenal beberapa waktu yang lalu oleh salah seorang tokoh yang memiliki pengikut cukup besar dan mampu mendirikan sebuah padepokan menyerupai pesantren untuk mendirikan kekuasaanya. Belakangan diketahui melakukan praktek penipuan dengan dalih mampu menggandakan uang yakni Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Probolinggo, Jawa Timur. 


Mengingat kultur budaya kita yang sangat kuat dan kemajuan keagamaan yang terus meningkat dikalangan masyarakat. Tidak heran seringkali kedua hal ini sering digunakan oleh para pihak yang ingin memiliki pengikut dan memiliki kekuasaan sebagai pembungkus motif tersembunyi dari keserakahan yang ingin didirikan. 


Namun bila dilihat secara demografi dimana tempat munculnya kekuasaan fiktif ini yang dimulai dari tempat dimana masyarakat kalangan menengah kebawah tinggal lebih dominan (pusat pemerintahanya umumnya dipedesaan). Dapat  dinilai sebagai bentuk fenomena masyarakat yang ingin mendapat solusi praktis terkait masalah ekonomi sekaligus berharap lebih dihargai. Tren kepercayaan warga pada hoaks juga dianggap punya andil.

Sebagai generasi bangsa apa yang dapat dilakukan...?????
Tentunya tidak baik juga bila kita hanya geleng-geleng kepala sambil Ckckckckckck (sampai bibir pegel).
Memberi tanggapan dan penilaian sesuka hati.
Atau bahkan justru mulai mencari siapa yang salah dalam hal ini..Eng..i..eng.
Wah,."Salah pemerintah ini....!!???? (sambil ongkang-ongkang)".
Ayolah...
Pemerintah juga kan pilihan kita,.mulai dari pemerintah desa sampai pemerintah pusat. Lantas.????
Hemat saya setidaknya kita dapat menangkalnya sejak dini, dimulai dari diri sendiri, keluarga, tetangga, sahabat, dst dst..
Kita tingkatkan budaya literasi kita terhadap setiap informasi/berita untuk lebih suka membaca,memahami,merenungkan kemudian memutuskan apakah informasi/berita itu berguna atau tidak untuk diri kita, dan orang lain diluar diri kita.
Kira-kira begitu,..⇴😎

0 Komentar