Poda ni Tulang na Huhaholongi

Hidup itu seperti meniti buih.

Sekitar pertengahan tahun 2006, di sebuah pondok tempat bersantai yang berada di halaman puskesmas. Pondok itu dibangun Tulang puskes (begitu biasa saya menyebutnya) dari bahan seadanya, tanpa dinding. Sengaja dibuat untuk tempat bersantai, sekaligus tempat berkumpul bercengkrama bagi siapa saja yang datang ke puskesmas tersebut. Tulang puskes memang orang yang terbilang rajin dan kreatif, terutama dalam mengelola pekarangan. Terlihat sejak mereka datang ke desa kami, dimana sebelumnya Nantulang tersebut bertugas sebagai bidan desa di Padang Sidempuan begitu yang ku ketahui setelah beberapa lama tinggal bertetangga dengan keluarga tersebut. Dikarenakan tuntutan pekerjaan sebagai keluarga abdi negara yang harus selalu siap mengabdi dimana saja pemerintah membutuhkan. Bersyukur sekali memang desa kami, yang setahu saya sejak saya tinggal disana belum pernah ada petugas kesehatan tinggal menetap di puskesmas tersebut walaupun memang fasilitas tempat tinggal memang telah lama ada.


Oh ya, kembali ke pondok itu.
Sore itu saya kebetulan sedang berada disana duduk bersantai dengan Tulang puskes. Saya ingat suasana hati saya saat itu antara bebas namun penuh keraguan. Saya baru saja menyelesaikan pendidikan menengah atas di Pematang Siantar. Merasa sudah saatnya harus memiliki rencana, dan menetapkan arah langkah kaki selanjutnya. Mengingat untuk melanjut kuliah bukanlah hal yang menjadi prioritas saya, karena sejak awal saya melanjut ke sekolah kejuruan, itu semua juga karena kemurahan dan mujizat Tuhan. Saya bersyukur sekali orang tua saya selalu mendukung, memperjuangkan saya dan abang saya untuk menyelesaikan pendidikan tingkat atas ini. Tidak ada sedikitpun surut semangat mereka berdua untuk menuntaskan cita-cita itu.

Perasaan yang tidak menentu itu perlahan hilang manakala bertemu dengan Tulang puskes. Dialognya yang selalu renyah dan penuh makna itu perlahan menyatu dengan emosi ku sore itu. Aku berusaha mencari apa tanggapanya dengan kondisiku saat itu. Tidak heran kalau Tulang puskes seakan mengerti apa yang aku butuhkan, karena memang setahu ku Tulang puskes seorang sarjana dan dulunya juga pernah bekerja dibeberapa perusahaan bagus. Namun karena Nantulang adalah seorang pegawai negeri sipil, maka dia pun mengalah untuk ikut dengan Nantulang agar keluarga mereka dapat diurus.


"Anton,..kalau kau mau merantau ingatlah hidup itu seperti meniti buih." Kira-kira begitu kalimat yang terucap darinya sore itu. 

Seakan mengerti isi hatiku karena saat itu aku diam sembari berharap Tulang puskes melanjutkan perkataanya.
"Kau tahu apa artinya meniti buih Anton ?" lanjutnya.
"Kalau buih itu sering kita jumpai dipantai atau laut. Dia terkadang kelihatan sepanjang pantai. Masa depan mu itu kau tidak akan tau bagaimana namun kau harus siap untuk menjalaninya. Meniti buih yang merupakan hal yang paling sulit namun harus kita jalani supaya kita sampai keseberang. Intinya pandai lah mengikuti arus perjalanan hidup mu."
jelasnya.
Aku pun tertegun sejenak memikirkan dan berusaha memahami nasehatnya. Walau saat itu memang aku belum dapat menangkap makna nasehatnya itu sepenuhnya.


Bohama cara na asa boi dapot ho tabo mangan dohot tabo modom ?

Pada saat yang sama ada satu orang lagi yang baru datang kepondok itu mendapati kami. Beliau memang bukan orang yang biasanya mau datang kesana. Bahkan bisa dikatakan belum pernah saya bertemu denganya untuk mengobrol santai dipondok itu. Perlahan ku lihat beliau menghampiri kami dan menyapa dengan seadanya. Ternyata memang tujuanya adalah menemui kami, mungkin beliau melihat dari kejauhan kami sedang santai dipondok dan tertarik untuk nimbrung. Beliau memang orang yang sibuk dikarenakan usaha sawit yang dikelolanya saat itu lumayan besar.


Tulang parkode (demikian kadang aku menyebutnya), karena Tulang itu memang sambil buka kedai disamping usaha sawit yang dikelolanya. Melihat Tulang ini aku memang agak segan juga walaupun memang dari garis keluarga belum terlalu jauh,.. namun mengingat kondisi keluarga saya yang miskin (begitu anggapan saya waktu itu). Bagaimana tidak, untuk makan sehari-hari saja ibu saya terkadang harus meminjam sejumlah uang dari mereka. Apalagi kebutuhan sekolah yang seringkali harus tepat waktu bayarnya, tidak jarang kami harus meminjam sejumlah uang kepada mereka. Hal itu juga yang menjadi perjuangan batin bagi saya, belum lagi seorang putrinya yang sejak kecil membuat jantungku berantakan apabila melihatnya. Mendengar namanya disebut saja, hatiku tidak bisa tenang. Namun,..ya sudahlah. Sekarang baru aku sadari bahwa cinta tak harus memiliki ( Seperti lagu ST12 aja 😊 ). Tidak heran kalau hampir semua ladangnya telah kami kerjakan, mulai dari membabat, memupuk, menunas, dan memanen sudah pernah kami borong habis agar kami dapat meneruskan pendidikan sekolah menengah atas seperti cita-cita orang tua saya.


Seakan telah mengetahui apa yang sedang kami perbincangkan, Tulang parkode mulai mengikuti alur pembicaraan. Ngobrolnya cukup santai dan diselingi tawa-tawa kecil karena beberapa guyonan Tulang puskes keluar begitu lepas. Perlahan emosi saya pun mulai terkendali, rasa segan itu pun mulai berubah menjadi hormat dan kagum kepada kedua sosok Tulang saya ini.


Saat dialog mulai netral perlahan Tulang parkode bertanya kepada saya.
"Bere, ..Alusi ma jo sukkun-sukkun hon.
Boha ma cara na asa boi dapot ho tabo mangan dohot modom?"
Sejenak aku tegang, dan memusatkan pikiran ku untuk memecahkan soalan yang dilontarkanya.
Dengan cara berpikir anak muda yang khas, aku berusaha agar mampu memberi jawab yang pantas dan meyakinkan. Timbul dalam hati perasaan ingin diakui, dihargai dan dipuji bila mampu memberi jawab yang benar. Takut dikatakan tidak mampu padahal sudah tamat sekolah pikirku dalam hati. Namun setiap jawab yang kusampaikan tidak satupun mengenai sasaran.


Merasa bahwa aku terlalu serius memikirnya. Tulang parkode pun membuka ceritanya. Beliau bercerita bagaimana perjalanan hidupnya ketika pertama kali merintis usahanya di desa kami. Cerita yang mungkin tidak banyak orang seusiaku waktu itu berkesempatan mendengarnya langsung dari beliau. Sejenak rasa kagum dan hormatku semakin menguat, motivasi hidup ku menyala-nyala dan ambisiku mulai membara.
Beliau memberi penjelasanya berdasarkan apa yang telah dilaluinya, dialaminya dan dikerjakanya.
"Molo naeng dapot ho na tabo mangan berarti ikkon male do ho. 
Molo naeng dapot ho na tabo modom berarti ikkon loja do ho.  
Ima ingot bere, jadi ikkon naloja do karejo asa dapot ho natabo mangan dohot minum. Molo ndang male ho aha pe siallangon hurang do tabona. Molo so loja ho maol do ho boi nok modom."


Perbincangan sore itu teringat sampai saat ini di benak ku. Saat aku menuliskan cerita ini kedua sosok Tulang itu sudah tidak ada. Mereka sudah menyelesaikan tugas dan panggilan hidupnya di dunia ini. Keduanya telah menghadap Pencipta yang mengasihinya.
Tidak seorangpun diantara keduanya dapat kulihat kepergianya.
Karena aku sedang mengerjakan apa yang mereka nasehat kan waktu itu. 
Biarlah bagiku mereka tetap hidup selamanya bersama semangat ku.

Jalan orang bodoh benar menurut pandangannya sendiri, tetapi orang berhikmat memperhatikan nasihat. (Amsal 12:15)

#Tulang Puskes ( Alm. R. Saragih )
#Tulang Parkode ( Alm. B. Manurung )